Social Icons

Tuesday, June 18, 2013

Hikmah Dibalik Didikan Ibu Tiri

Berbicara tentang ibu tiri pasti yang terbayang adalah perlakuan yang tidak adil dari seorang ibu terhadap anak tirinya. Tak jarang kita mendengar atau menyaksikan bagaimana perlakuan tak semena-mena dari ibu tiri berbentuk siksaan secara fisik dan psikis yang berat. Telah banyak film dan sinetron yang mengangkat hal ini sebut saja film "Ratapan anak tiri" yang dibintangi alm. Tanty Yosepha dan sinetron "Kisah sedih di hari minggu" yang dibintangi Marshanda.
Keidakadilan itu biasanya terjadi ketika si anak tiri masih kecil sehingga otomatis akan berpengaruh terhadap karakternya ketika dewasa nanti. Banyak dampak negatif yang timbul namun ada juga dampak positif yang bisa dihasilkan dari perlakuan seorang ibu tiri bila itu disikapi dengan bijak.

Saya adalah orang yang merasakan dampak dari perlakuan ibu tiri walaupun saya sendiri bukan anak tiri.
Read More>

Saturday, June 08, 2013

Jangan Kaget Bila Teman Anda dari Kupang Suka "Main Gila"

Membaca postingan Ibu Ellen Maringka berjudul Mengapa Pria Jawa Sering Pingsan di Manado, mengajak saya untuk ikut  berbagi pengalaman yang berhubungan dengan bahasa sehari-hari di kota saya yaitu bahasa Kupang. Bahasa Kupang memiliki ciri khas tersendiri dan tidak bisa dikategorikan sebagai bahasa daerah karena merupakan bahasa Melayu yang dipadukan dengan bahasa Belanda, Portugis dan bahasa suku-suku di NTT khususnya bahasa Timor, Rote dan Sabu. Perpaduan itu menjadikan bahasa Kupang unik dibandingkan dengan bahasa Melayu di daerah lain.

Bagi mereka yang berasal dari Manado, Maluku dan Papua mungkin tidak akan terlalu mengalami shock berbahasa karena ada kemiripan dalam dialek dan kosa katanya. Namun bisa timbul konflik bagi mereka yang berasal dari daerah lain seperti Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
Read More>

Wednesday, May 29, 2013

Hal-hal Ini Awalnya Tak Sanggup Kuhadapi Sebagai Penderita Mielitis Transversa

Setiap orang pasti mempunyai hal-hal ideal yang diharapkan mewarnai perjalanan hidupnya. Ketika jalan hidup tak semulus yang diidamkan, bahkan mungkin terbalik 180 derajat, otomatis akan timbul gejolak dalam hati untuk menolaknya. Kita akan berusaha semaksimal mungkin agar hal-hal ideal menurut kitalah yang sebaiknya terjadi. Namun sebagai manusia terbatas, upaya itu sering mengalami jalan buntu dan akhirnya sadar bahwa berserah pada kehendakNya itulah jalan terbaik.

Selama tiga tahun menderita Mielitis Transversa, banyak hal yang dulunya tidak pernah aku harapkan justru menjadi kenyataan. Karenanya terjadi penolakan dalam diri sehingga proses dan waktu Tuhan-lah yang menjawab semua kegundahan hati dan menuntunku untuk siap menerima itu. Berikut kutuliskan tiga hal yang awalnya tidak kuterima namun pada akhirnya aku siap menghadapinya.
Read More>

Monday, May 06, 2013

Bersyukurlah Kalau Anda Masih Bisa Tidur Dengan Nyaman [Coretan Kecil Tiga Tahun Menderita Myelitis Transversa]

Tanggal 29 April 2013 kemarin, genap 3 tahun saya harus berjuang melawan penyakit Myelitis Transversa. Ini artinya sudah 1.095 hari saya lewati dengan tidak sekalipun merasakan nyamannya tidur. Rasa sakit yang terus mendera membuatku tidak pernah beranjak tidur dengan kondisi tubuh yang terasa nyaman. Jika setiap hari saya bisa tertidur itu bukan karena sedang menikmati indahnya mimpi namun karena siklus biologis yang mengharuskan tubuh beristirahat sejenak.

Paragraf pembuka di atas bukanlah untuk mendramatisir keadaan namun itulah kenyataan yang benar-benar saya alami 3 tahun terakhir. Sejak diserang Myelitis Transversa, saya tak pernah lagi merasakan nikmatnya tidur. Artikel ini kutulis bukan untuk mengeluh tapi hanya ingin berbagi pengalaman hidup yang tidak semua kita mengalaminya.
Read More>

Sunday, April 28, 2013

Cermin: Don't Judge a Book by Its Cover

Ada sepasang suami isteri yang usianya sudah kakek-nenek tinggal di sebuah kota kecil. Mereka hidup sangat sederhana dan sangat baik hati. Aktifitas sang kakek sehari-hari adalah menjaga taman wisata alam yang letaknya sekitar 3 Km dari kota,  berada agak ditengah hutan yang cukup lebat. Taman wisata itu dirawat dengan baik oleh sang kakek sehingga pohon-pohonnya tetap rimbun, sekilas kita akan mengira taman itu adalah hutan karena kerimbunan pohon-pohonnya tidak berbeda dengan hutan sekitar. Sambil merawat taman itu, ketika sepi pengunjung sang kakek masuk hutan mengumpulkan kayu bakar yang nantinya dijual ke warga kota untuk menambah biaya hidup menopang gajinya yang tidak seberapa sebagai penjaga taman.

Read More>