Social Icons

Friday, January 20, 2012

Teach me to number my days

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90 :12)

Bagian Firman Tuhan, Mazmur 90, menjadi bagian renungan dalam Ibadah bersama Staf, BPC, Departemen dan Komponen Perkantas Jatim tanggal 19 Januari 2012 yang dibawakan oleh Kak Marlia Ernawaty dibawah tema : Teach us to Number our days. Dalam khotbahnya Kak Marlia mengajak semua yg hadir untuk kembali melihat kembali apa yang telah terjadi dan apa respon kita terhadap kejadian-kejadian dalam setahun yang lalu dan apa harapan-harapan apa untuk tahun yang baru untuk pekerjaan, pelayanan, study dan keluarga. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami…” bukan berarti menghitung jumlah hari-hari yang telah kita lalui namun bagaimana kita memaknai dan menghargai setiap waktu yang diberikan Tuhan untuk memperoleh hati yang bijaksana yaitu hati yang takut akan Tuhan dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Malam ini terasa special bagiku, bagaimana tidak, melihat kembali apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidupku setahun terakhir, mujizat demi mujizat telah kualami membuatku semakin yakin dan percaya akan kehadiran Tuhan dalam penderitaan yang kualami. Ia selalu menjaga dan menolongku. Tepat setahun lalu tanggal 17 Januari 2011 aku datang ke kota ini untuk berobat, sekedar cross check apa sebenarnya penyakit yang telah kuidap sejak 8 bulan sebelumnya (29 April 2010). Hasinya ternyata aku menderita myellitis transversa (inveksi tulang belakang) sehingga untuk itu saya harus menjalani suntikan immuno globulin setiap bulan selama 12 kali atau 12 bulan. Saat itu banyak pergumulan berkecamuk dalam hatiku ditengah rasa sakit yang menyiksa. Dari mana biaya berobat yg nilainya mencapai belasan juta rupiah per bulan? Dimanakah saya harus tinggal selama setahun? Aku tak punya seorangpun keluarga di Surabaya, bagaimana mungkin aku harus menjalani hari-ini hanya ditemani adikku Zadrak Lakapu? Bagaimana aku harus menerima kenyataan kalau pada akhirnya hasil pengobatan tidak sesuai harapan? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terkadang membuatku tak mampu untuk berpikir, bahkan untuk bernyanyi dan berdoa saja sepertinya ku tak sanggup lagi. Ku hanya pasrahkan semuanya dalam tangan Yesus. Ia yang tahu akan segala pergumulanku.

Namun sampai malam ini semua pertanyaan di atas terjawab tuntas. Minggu yang lalu aku telah berhasil melewati 12 kali suntikan (booster), semua biaya dapat terpenuhi melalui dukungan orang-orang yang peduli dengan perjuanganku ini, tak dapat ku satu per satu mereka yang membantuku, orang yang ku kenal maupun tidak. Dengan dukungan teman-teman seiman di kota ini aku bisa tinggal dan merasa memiliki keluarga yang banyak & peduli akan aku. Tuhan memberiku kesabaran ekstra untuk bisa menjalani hari-hari selama setahun di pembaringan tanpa rasa stress yang berlebihan. Tubuhku pun semakin kuat untuk duduk dan mencoba beraktifitas selama lebih dari 6 jam padahal sebelumnya aku hanya mampu duduk selama kurang dari 5 menit. Banyak lagi perkembangan dalam tubuhku yang menunjukkan ada kemajuan ke arah yang lebih baik. Aku juga mendapatkan bantuan therapy akupunktur selama 4 bulan dari kak Yohanes Budiman. Semua kenyataan ini membuatku menjadi siap untuk menerima apapun hasil pengobatan hingga saat ini, sesuai atau tidak sesuai keinginan. Bagiku Tuhan tak pernah menutup mata terhadap semua pergumulanku.

Dalalm ibadah malam ini aku merasakan persekutuan yang kuat antara saudara-saudara seiman yang turut merasakan apa yang ku alami. Siswa, mahasiswa, alumni, pengurus BPC dan para staf Perkantas Jatim bersatu mendoakanku. Sebuah ayat Firman Tuhan diberikan Kak Harry Limanto dari Amsal 2 : 7-8 : Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Sungguh semua ini menguatkanku untuk kembali ke Kupang dan melanjutkan perjuangan ini. Persekutuan yang indah memberikanku keyakinan bawa Tuhan selalu menyertai aku dimanapun berada dan apapun pergumulanku. Berkaca dari apa yang telah kualami ini membuatku mantap melangkah ke depan mengarungi lautan kehidupaan yang berat. Kalau Tuhan sudah berbuat yang terbaik bagiku sampai saat ini maka pasti Ia akan terus merenda karya-karya indah dalam hidupku. Semua yang ku alami setahun ini adalah mujizat dengan cara yang tak kuduga. Tuhan punya cara tak terbatas untuk menerapkan kasihNYa.

“Tuhan kuserahkan hari-hari hidupku ke dalam tanganMu, aturlah sesuai kehendakMu. Ajarku selalu menghitung hari-hari ini agar mendapat hati yang bijaksana”.