Social Icons

Saturday, October 20, 2012

Hidup Kok Sepertinya Tidak Adil?

Kita pasti pernah mengalami atau melihat kasus seperti ini:

- Ada orang yang selalu berusaha untuk taat pada Tuhan tapi hidupnya menyedihkan sedangkan orang yang selalu berbuat jahat malah selalu tampak bahagia.
- Ada keluarga yang sudah resmi menikah dan sangat berharap punya buah hati tapi belum juga dikaruniai anak sedangkan ada orang yang 'terpaksa' harus menikah karena pacarnya sudah lebih dulu hamil.
- Ada orang yang berlaku jujur tapi kehidupannya menderita sedangkan orang yang hidup dengan tipu daya nampak sejahtera.
- Ada orang yang produktif tapi sakit-sakitan sedangkan orang yang nganggur dan hanya keluyuran malah sehat walafiat.
- Ada orang yang rajin bekerja tapi sering ditimpa bencana (kebakaran, kecelakaan, dll) sedangkan orang yang malas justru selalu luput dari bencana.
- Ada orang yang baik hati mati muda sedangkan mereka yang penuh dengan kejahatan malah berumur panjang.
- Ada orang yang saat kuliah tidak nyontek tapi sulit mendapat pekerjaan sedangkan orang yang tukang nyontek malah cepat dapat kerja.
- Ada orang yang tidak merokok, tidak miras dan rajin pelayanan tapi sulit menemukan jodoh sedangkan orang yang merokok, suka miras dan tak pernah ke gereja malah cepat menemukan pasangan hidup.
- Dan lain-lain.

Diperhadapkan pada kenyataan-kenyataan seperti ini pasti timbul pertanyaan "Hidup ini kok tidak adil ya?" Bahkan kita mempertanyakan keberadaan dan menggugat keadilan Tuhan, "Dimanakah Dia sehingga membiarkan hal-hal yang buruk terjadi pada orang yang baik sebaliknya orang yang jahat justru mengalami hal-hal yang baik?" Yang kita harapkan adalah segala sesuatunya ideal tapi kenyataan justru sebaliknya.

Untuk memecahkan masalah ini, kita bisa menjawab dulu pertanyaan ini, "Sesuatu itu terlihat tidak adil menurut siapa? Menurut penilaian manusia bukan?"

Mari kita lihat siapa sebenarnya manusia itu, “Seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu" (Roma 3:10-18).

Nah, dengan natur seperti itu, layakkah manusia menghakimi Allah yang Maha Adil itu? Layakkah manusia yang tidak benar, berdosa, suka menyeleweng, tidak berbuat baik dll itu mempertanyakan keadilan Allah? Semua yang diperbuat manusia hanyalah kejijikan di mata Allah yang kudus.

Usaha manusia lewat pikirannya yang berdosa tidak mungkin mampu memahami pikiran Allah yang tidak terbatas. Apa yang menurut kita adil belum tentu adil dimata Tuhan dan sebaliknya apa yg kita nilai tidak adil belum tentu tidak adil bagi Tuhan.

Contohnya: ada orang yang mengklaim nazar dan doanya "terkabul" ketika seseorang yang telah membuatnya sakit hati mengalami kecelakaan atau bernasib apes. Sebuah doa yang lumrah menurut manusia tetapi tidak bagi Allah. Manusia menganggap sudah benar doa agar orang lain ditimpa bencana (prinsip: "khan dia sudah menyakiti saya!"), padahal rancangan Allah bagi manusia adalah rancangan damai sejahtera bukan kecelakaan (Yer. 29:11). Yang seharusnya kita perbuat bagi orang yang telah menyakiti hati kita adalah memaafkan bukan membalas atau mendoakan agar sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tuhan Yesus berkata, "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Matius 5:39). Jangan bangga kalau doa agar orang yang telah menyakiti kita mengalami musibah "dikabulkan," karena justru kita berdosa saat berdoa demikian.

Bagi manusia sudah adil ketika bisa membalas orang yang menyakiti hati kita atau orang tersebut mendapat balasan dengan mengalami musibah, padahal bagi Tuhan yang adil adalah memberi maaf 70x7 kali, memberi maaf tanpa batas (Matius 18:22). Apa yang dinilai adil oleh manusia hanya untuk memuaskan emosi dan keinginan dagingnya bukan menjalankan kehendak Tuhan.

Pada dasarnya apa yang dibuat manusia hanya berorientasi pada dosa dan yang pantas untuk kita dapatkan adalah neraka tapi oleh karena kemurahan Allahlah kita diselamatkan. Kebinasaan oleh api neraka adalah bagian untuk seluruh umat manusia tetapi karena anugerahNya, kita bisa selamat hanya dengan percaya kepadaNya (Yoh. 3:16).

Ketika hidup terasa tidak adil, tidak sepantasnya kita menggugat keadilan Allah. Kita mesti meneladani sikap Ayub ketika kemalangan menimpa, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Ayub tidak mempertanyakan keadilan Allah tetapi justru berserah dan memuji Tuhan.

Daripada sibuk mempertanyakan keadilan Tuhan, lebih baik bersyukur atas anugerahNya yang kita terima sebab Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

4 comments:

  1. Syalom,, Tulisan kakak sangat membangun,,, :)

    Semuanya itu sebenarnya mudah dijalani dan kita akan merasa hidup itu adil jika kita selalu bersyukur akan apa yang sudah kita terima dan mendoakan apa yang kita lakukukan dan yang akan kita lakukan..

    Saya salut pada kakak yang selalu bersyukur dan tidak mengeluh dengan keadaan yang sekarang kakak jalani, saya sering membaca dari tulisan kakak selalu memanfaatkan waktu yang ada dengan belajar dan berbagi lewat FB dan blog kakak, kakak selalu menunjukkan bahwa Tuhan adil padahal kakak sedang berkekuranagan dan harusnya mengeluh.. Tpi itu tidak kakak lakukan...

    Semoga melalui sharing dan kesaksian kakak, banyak orang menyadari bahwa Tuhan itu MAHA ADIL...

    Tuhan Yesus Memberkati Kakak dan keluarga, dan selalu diberi ketabahan.. :)

    Syalom..

    ReplyDelete
  2. luar biasa k tulisanmu,,dari tulisanmu akau belajar untuk lebih dewasa dlam Tuhan... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Sherly su baca & komen. Tuhan memberkati selalu...

      Delete