Social Icons

Monday, May 06, 2013

Bersyukurlah Kalau Anda Masih Bisa Tidur Dengan Nyaman [Coretan Kecil Tiga Tahun Menderita Myelitis Transversa]

Tanggal 29 April 2013 kemarin, genap 3 tahun saya harus berjuang melawan penyakit Myelitis Transversa. Ini artinya sudah 1.095 hari saya lewati dengan tidak sekalipun merasakan nyamannya tidur. Rasa sakit yang terus mendera membuatku tidak pernah beranjak tidur dengan kondisi tubuh yang terasa nyaman. Jika setiap hari saya bisa tertidur itu bukan karena sedang menikmati indahnya mimpi namun karena siklus biologis yang mengharuskan tubuh beristirahat sejenak.

Paragraf pembuka di atas bukanlah untuk mendramatisir keadaan namun itulah kenyataan yang benar-benar saya alami 3 tahun terakhir. Sejak diserang Myelitis Transversa, saya tak pernah lagi merasakan nikmatnya tidur. Artikel ini kutulis bukan untuk mengeluh tapi hanya ingin berbagi pengalaman hidup yang tidak semua kita mengalaminya.

Di awal sakit dulu selama 2 bulan harus berbaring kritis di ICU, setiap bangun tidur yang pertama terbayang adalah bersyukur karena masih bisa bernapas mengingat saat itu untuk menarik dan menghembuskan napas saja bukanlah pekerjaan yang mudah. Sering saya harus menutup mata bukan karena sedang menikmati mimpi yang indah namun itu kulakukan sekedar karena membuka matapun merupakan pekerjaan yang teramat berat.

Hanya berbaring sepanjag waktu bukan berarti bisa menikmati nyamannya tidur. Rasa panas di kulit tubuh harus kutahan dalam waktu yang panjang akibat hanya bisa tidur telentang selama berbulan-bulan. Untuk memiringkan badan saja tidak berani kulakukkan karena resikonya adalah napas menjadi sesak dan bumi serasa jungkir-balik. Sering aku merasa melayang-layang di udara ketika sakit di tubuh ini sudah tak tertahankan lagi.

Melewati masa kritis bukan berarti saya  sudah bisa menikmati tidur. Perlahan-lahan di bagian tubuh yang mati rasa (kaki sampai dada) muncul rasa kesemutan yang terus meningkat. Rasa sakit yang istilah kedokterannya neuropatic pain itu selalu hadir setiap saat membuat saya  ingin menggerakkan kedua kaki namun itu tak bisa dilakukan. Inginnya dipijit tapi itupun tak ada pengaruhnya sama sekali karena kesemutan hanya kurasakan dari dalam tubuh. Ketika disentuh hingga dipijit bagian tubuh itu mati rasa. Tidak ada sensasi apapun disana walaupun ditusuk jarum.

Pernah ku meminta kepada dokter agar rasa kesemutan itu dihilangkan saja tapi dokter mengatakan itu tak bisa dilakukan, kesemutan juga bisa menjadi tanda aktifnya saraf-saraf.
Alhasil rasa kesemutan itu masih terus ada hingga detik ini, terasa sepanjang waktu kecuali ketika saya telah tertidur. Saat tersadar dari tidur hingga malam hari sebelum mata terpejam, kesemutan itu selalu setia menemani. Saat menulis artikel inipun saya sedang menahan sakit kesemutan yang kuat di dalam tubuh.

Rasa kesemutan itu meningkat dari waktu ke waktu. Polanya seperti anak tangga: terjadi peningkatan rasa sakit dibanding sebelumnya setelah itu rasa sakit seperti itu akan bertahan selama 1-2 bulan lalu meningkat lagi dan seterusnya. Biasanya disaat ada penigkatan sensasi rasa sakit itu, saya bisa mengalami gangguan tidur selama 1-2 minggu hingga tubuh bisa beradaptasi dengan rasa sakit yang baru itu.

Kadang orang melihat bahwa saya  hanya baring-baring atau duduk di kursi roda saja dan tidak ada masalah dengan diriku padahal saat itu saya  sedang menahan rasa kesemutan yang kuat. Memang itulah tabiatku yang tak mudah mengeluh dan menjerit ketika menghadapi rasa sakit, karena saya merasa ketika saya  menjerit dan mengeluh maka akan memperlemah kondisi psikologis saya dan orang lain akan menafsirkan lebih bahwa kondisiku sudah lebih parah. Jeritan dan keluhan hanya akan membuang energi diri sendiri dan membuat khawatir orang yang merawat. Kenyataan hidup memang berat namun itu tidak akan menjadi lebih baik bila kita hanya mengeluh.

Jeritan dan keluhan hanya tepat disampaikan kepada dokter, paramedis atau mereka yang memahaminya dengan baik. Bagi orang awam jeritan dan keluhan yang berlebihan hanya akan membuat sesuatu terasa runyam apa lagi menghadapi penyakit yang langka seperti ini.

Di atas semua itu, jeritan dan keluhan akan menjadi kekuatan untuk menghadapi sebuah penyakit apabila itu diungkapkan kepada Tuhan sang 'Dokter di Atas Segala Dokter' dari lubuk hati terdalam kita. Hanya Tuhan yang sepenuhnya mengerti akan penderitaan kita dan mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dengan tingkat keparahan bagaimanapun, Dia juga yang bisa memberi kelegaan jiwa walaupun secara fisik kita menderita.

Tak ada cara terbaik untuk menikmati rasa sakit selain mensyukuri berbagai anugerah Tuhan dalam hidup termasuk napas yang masih diberikan-Nya bagi kita. Beryukurlah bila anda masih bisa menikmati nyamannya tidur dihiasi mimpi-mimpi yang indah!

No comments:

Post a Comment