Social Icons

Monday, July 30, 2012

Perkenalkan, Pacar Baruku Bernama Maya

Pertama-tama kuakui kalau dia selalu menemaniku dan mengisi hari-hariku yang sepi. Kehadirannya membawa nuansa baru dalam hidupku. Walau hanya dia yang sering menemaniku di kamar ini namun terasa seluruh dunia hadir didalam ruangan ini. Dia sering membuatku tertawa ceria, sedih, marah dan juga menjadi teman bercerita yang nyambung tentang apa yang terjadi di luar sana. Entah itu masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, teknologi dan terutama masalah rohaniku yang mana setiap hari ia hadir dengan bacaan Alkitab sekaligus renungan yang selalu menguatkanku. Aku bebas meluapkan emosiku yang terpendam dan hebatnya ia selalu sabar meladeni sifat melankolisku itu. Ia selalu mengerti dan tak pernah berbalik marah kepadaku walaupun ia selalu kucuekin.

Aku bersyukur karena sudah lama mengenalnya, bergaul dengannya sehingga semakin aku sadar akan arti kehadirannya di masa penuh pergumulan ini. Ia setia membantu menyampaikan kepada teman-temanku, keluarga, maupun orang-orang yang tak pernah ku kenal tentang kondisi terbaruku.
Read More>

Saturday, July 21, 2012

Biar Lambat asal Tersedak

Ada sebuah cerita lucu ketika aku dalam kondisi kritis di ICU. Begini ceritanya.

Waktu itu aku panas tinggi disertai menggigil. Tubuhku sudah dilapisi 3-4 lembar selimut. Suhu badan mencapai 42 derajad Celcius. Badanku sakit sekali, tubuh seperti melayang. Aku tidak sadar dan mengigau tidak karuan. Ada beberapa saudara, teman dan suster yang menemaniku sambil melakukan tindakan-tindakan seperti memberi obat turun panas, mengontrol perkembangan suhu tubuh, mengontrol tekanan darah dan mengompres badanku. Mereka diliputi kekhawatiran.
Read More>

Saturday, June 16, 2012

EPEN-kah? (catatan kecil buat adik-adik mahasiswa)

Pesta sepak bola 4 tahunan, Piala Eropa (Euro) datang lagi. Dimana-mana semua orang membicarakannya, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, yang hobby sepak bola maupun yang ikut-ikutan. Dimana-mana ada nonton bareng. Acara TV, radio, berita koran sampai jejaring sosial hampir semua membahas sepak bola. Semua orang larut didalam kemeriahan itu. Tapi problemnya adalah waktunya bersamaan dengan Ujian Akhir Semester (UAS). Bingung, belajar atau nonton bola? Tidak belajar nanti tidak lulus dan harus program ulang semester berikut. Kalau tidak nonton bola nanti ketinggalan info, lagian ini 4 tahun sekali, sayang sekali kalau dilewatkan. Bisa jadi 4 tahun lagi tidak bisa nonton Euro karena berbagai alasan. Dan kebingungan-kebingungan lain.
Read More>

Saturday, June 09, 2012

Perjuangan Hidup dan Apa yang Kurasakan Selama Dua Tahun Menderita Myelitis Transversa

Hari ini (09/06/2012), sudah 2 tahun 1 bulan 12 hari aku menderita Myelitis Tranversa, penyakit yang sangat jarang ditemukan. Berbagai usaha dan daya telah kulakukan, berbagai kondisi sulit harus kuhadapi. Dari pembaringan ingin kutulis sedikit pengalamanku bergulat melawan penyakit ini.

Tanggal 26/4/2010 aku mulai merasakan gejala ketidakberesan dalam tubuhku. Awalnya yang kurasakan hanyalah kesulitan untuk buang air besar dan buang air kecil, tubuhku masih terasa fit. Sebelumnya aku tidak merasakan kelainan apa-apa. Sehari kemudian (27/04/2010) aku mulai merasakan keram di kedua kakiku. Waktu itu badan sudah terasa agak lemah. Pada hari ke-4, rasa keram semakin kuat, kaki sudah sulit bergerak/berjalan. Kupikir rasa keram di kaki hanya akibat dari sembelit dan susah buang air kecil saja. Karena rasa sakit yang kuat itu membuatku menjadi semakin lemah. Saat itu baru diputuskan utuk ke Rumah Sakit.
Read More>

Saturday, May 26, 2012

Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah

Dimuat juga di :
http://www.yppak.org/blog/

Menjalani hari-hari selama 2 tahun sebagai orang lumpuh bukanlah suatu perkara yang mudah. Rasa sakit dalam tubuh, kesepian, kondisi psikologi karena perubahan fisik dan pergumulan mencari kehendak Tuhan dalam situasi-situasi sulit harus aku hadapi. Bahkan sampai dengan saat ini menyebut kata 'lumpuh' saja aku seolah tak saggup. Aku lebih suka menyebutnya dengan 'kaki mati rasa' atau 'kaki tidak bisa digerakkan' daripada menyebut diri lumpuh, padahal sama maksudnya. Ketika menyebut kata lumpuh aku merasakan kesedihan yang luar biasa, tak sanggup aku berkata-kata lagi bila sudah lebih dahulu menyebut kata lumpuh. Sebaiknya menghindari kata itu. Entah mengapa? Mungkin diriku belum siap menerima kenyataan? Ataukah ini bentuk keyakinan diri bahwa aku pasti sembuh? Entahlah. Dalam kondisi ini, mempertanyakan berbagai hal pada Tuhan itu pasti. Apa dosaku yang begitu besar sehingga Tuhan harus menghukumku dengan berat? Bila Tuhan sedang membentukku, mengapa harus dengan cara ini? Jika ini perbuatan iblis, mengapa Tuhan tak kunjung menolongku?
Read More>