Social Icons

Monday, November 19, 2012

Kebersamaan Terakhir di Pantai Itu...


Suasana ibadah

Minggu, 18 April 2010, sekitar jam 7 pagi. Didepan Kampus Undana Lama Naikoten I-Kupang, parkir satu unit bus Damri dan satu unit mobil Dalmas Polda. Ada 70-an orang berkumpul di situ. Tidak sedang terjadi demonstrasi oleh mahasiswa tetapi mereka adalah rombongan dari Perkantas Kupang yang hendak bersama-sama pergi merayakan Paskah.

Seperti biasanya setiap tahun, Perkantas Kupang mengadakan perayaan Paskah yang melibatkan alumni, mahasiswa dan siswa. Paskah sebenarnya baru berlalu satu minggu sebelumnya.

Untuk tahun ini, kegiatannya diadakan di pantai Tablolong, sebuah tempat rekreasi di ujung barat Pulau Timor, pantai berpasir putih dengan laut yang tenang dan masih cukup alamiah, berjarak kurang lebih 40 km dari kota Kupang.

Sekitar pukul 9.30 WITA, rombongan sudah tiba di sana, banyak juga peserta lain yang pergi menggunakan kendaraan pribadi: motor maupun mobil, tidak ada yang memakai perahu lewat laut. :D Hingga acara dimulai, sekitar 150 orang yang sudah hadir.

Acara hari itu berjalan dengan riang. Akupun berbaur dalam keceriaan bersama teman-teman. Ada lomba opera van Perkantas, ada ramah-tamah (es buahnya enak sekali, makasih untuk yang buat) dan tentunya ada ibadah bersama yang saat itu dipimpin Kak Bea.

Kegiatan berlangsung cukup meriah dalam nuansa kebersamaan sampai jam 4 sore sebelum semua kembali untuk melaksanakan aktifitas masing-masing.

Mungkin anda bertanya, mengapa hari itu terasa spesial sampai-sampai aku mengingat dengan cukup detail setiap kronologisnya? Apakah aku mempunyai rencana atau setidaknya ada firasat bahwa hari itu adalah hari spesial sehingga aku sudah menyiapkan catatan rentetan kejadian sepanjang hari itu?

Ya, hari itu merupakan hari yang spesial tetapi aku tidak mempunyai firasat apa-apa sebelumnya dan tidak ada catatan khusus yang kubuat. Semua yang kutulis hanyalah memori akan hari dimana terakhir kalinya aku bisa berkumpul bersama teman-teman pelayanan. Hari itu adalah untuk kali terakhir aku bisa menikmati kebersamaaan di 'alam bebas' dan kondisi fisik yang bebas pula.

Selanjutnya, hingga tulisan ini aku buat, sudah 2,5 tahun aku melewatkan waktu hanya di dalam kamar RS dan kamar rumah dengan fisik yang tak bebas lagi, diatas tempat tidur maupun kursi roda.

Syukurlah, Tuhan masih memberiku otak yang tetap merekam kejadian hidupku dan ingatan itu tak sampai hilang walaupun ada keadaan dimana aku merasa sudah tidak punya otak lagi untuk berpikir bahkan merasa sudah tidak lagi berada di dunia.

Bila berada di rumah, apa yang bisa kunikmati hanya sejauh batas-batas tembok kamar, ditemani orang-orang rumah, benda-benda terapi dan barang-barang yang ada didalam rumah. Bila berada di RS, yang menjadi teman-temanku adalah obat, jarum, infus, O2, suara rintihan "tetangga" hingga suara tangisan iba dari mereka yang baru saja ditinggal pergi oleh orang terkasih.

Hanya seminggu setelah hari itu aku mulai merasakan tempaan hidup yang luar biasa. Peringatan kebangkitan Kristus itu adalah momen terakhir sebelum diperhadapkan pada kronologis hidup yang teramat berat. Aku pasti tak ada lagi di dunia bila tanpa kemurahan tangan Tuhan.

Kejadian hidup selanjutnya hanyalah rangkaian "kehilangan" yang terjadi dalam hidupku. Kehilangan kesehatan, kehilangan pelayanan, kehilangan pekerjaan, kehilangan dana, kehilangan peluang pengembangan diri, kehilangan waktu, kehilangan berbagai ketrampilan, kehilangan orang tua (mama), kehilangan impian-impian, kehilangan kebebasan dan aktifitas-aktifitas serta kehilangan lain yang tak pantas kusebutkan. Daftar panjang itu masih mungkin bertambah, aku tidak tahu apa yang bakal terjadi kedepan. Sangat berat melihat kembali apa yg telah kualami.

Itu semua adalah kehilangan-kehilangan menurut kaca mata saya tetapi tidak bagi Tuhan. Dalam setiap kehilangan itu, Tuhan telah menyiapkan penggantinya yang lebih baik dan tidak kuduga. Setiap kehilangan itu awalnya membuatku mengeluh dan menangis tetapi berubah menjadi ucapan syukur ketika aku menyadari rencana Tuhan yang sebenarnya. Berkat Tuhan nyata dalam setiap kehilanganku. Walaupun masih ada yang menyisakan tanda tanya dan terus kucari jawabannya. Pada bagian lain akan kuulas secara khusus tentang kehilangan-kehilangan itu.

Kuyakin dibalik semua ini Tuhan sedang mempersiapkan bagiku bagian yang spesial. Kuyakin kehilangan-kehilangan itu hanyalah cobaan yang tak melebihi kekuatanku. Kuyakin ada jalan keluar dan sesuai waktuNya.

Aku rindu akan tiba saatnya dimana Tuhan mengijinkan aku bisa kembali menikmati keindahan alam, kebersamaaan dan kebebasan fisik seperti kisah di pantai Tablolong itu.

7 comments: