Social Icons

Thursday, November 22, 2012

Pantai Kolbano, (Bekas) Pantai Indah dan Unik di Selatan Timor

Pantai Kolbano dipotret dari lereng gunung.

Desa Kolbano, sebuah desa unik di pantai selatan Pulau Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan-NTT, berjarak sekitar 90 km dari SoE (ibu kota kabupaten) dan 140 km dari Kupang (ibukota provinsi). Mata pencaharian utama warganya adalah petani dan nelayan juga beternak.

Desa Kolbano memiliki sebuah 'Mite' (cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya cerita) yang cukup terkenal di bumi TTS dan Timor umumnya. Mite (mitos) yang sudah ada sejak berabad lalu yaitu kisah "Bi Kabin." Cerita tentang seorang gadis anak manusia bernama Bi Kabin yang menikah dengan Raja Laut (Na' Besimnasi = Buaya). Konon pada jaman dahulu, untuk menjaga kelestarian alam dan hubungan kekerabatan dengan Na' Besimnasi, keluarga Bi Kabin bersama warga desa selalu melakukan ritual tahunan tertentu di pantai ini.

Terumbu karang di laut Kolbano.

Sebagai ucapan terimakasih dari sang Raja Laut, pantai Kolbano selalu dilimpahi kekayaan ikan dan mudah ditangkap tanpa merusak pantai. Hubungan manusia dan alam sangat harmonis. Itu hanyalah dongeng yang masih terdengar hingga sekarang tapi sudah mulai menghilang karena kurangnya perhatian pemerintah lokal dan masyarakat melestarikan budaya lisan itu.

Dimasa penjajahan Belanda dulu, masyarakat desa ini sudah terkenal idealis. Mereka berani melawan penindasan Belanda lewat kisah heroik "Perang Kolbano", 26 Oktober 1907, yang mana masyarakat dibawah pimpinan 3 orang pahlawan : Boy Kapitan (Boy Boimau), Pehe Neolaka dan Esa Taneo, berhasil membunuh pasukan Belanda. Sebuah kisah yang menghiasi halaman sejarah perjuangan rakyat TTS melawan penjajahan. Ada bukti berupa sebuah tugu peringatan perang Kolbano yang dibuat oleh pemerintah Belanda satu tahun setelah perang itu (1908), namun kondisinya tidak terurus lagi. Tak ada upaya pemerintah memperindahnya untuk menjadi obyek wisata sejarah.

Tugu peringatan perang Kolbano tahun 1907 (dibangun tahun 1908).

Untuk catatan SDM modern, Desa Kolbano tidak ketinggalan mencetak putra-putranya yang berprestasi bukan saja di tingkat kabupaten dan provinsi tapi juga tingkat nasional. Sebagai contoh, desa ini telah menghasilkan 2 orang profesor kenamaan, Prof. Mesakh Taopan dan Prof. Amos Neolaka. Prof. Taopan adalah guru besar pertama Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sedangkan Prof. Neolaka adalah guru besar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Dalam hal kekayaan alam, desa ini sepintas tidak memiliki sesuatu yang bisa diandalkan. Permukaan yang gersang dan curah hujan yang sedikit tidak jarang membawa bencana kekeringan. Namun sebenarnya banyak potensi besar yang sudah diandalkan sejak dulu dan masih bisa dikembangkan sampai saat ini. Sebut saja lontar (siwalan) dan asam yang populasinya cukup banyak disana. Kedua komoditas ini kalau dikembangkan dan dikelola dengan serius akan mendatangkan penghasilan yang cukup besar bagi masyarakat dan menjadi alternatif sumber penghasilan mana kala curah hujan berkurang yang menyebabkan hasil kebun menurun atau dimusim kemarau.

Aktifitas nelayan di Pantai Kolbano.

Pantai Kolbano juga terkenal sebagai penghasil ikan di TTS. Disaat pasokan ikan dari Kupang menurun, biasanya ikan dari Kolbano-lah yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan ikan di SoE. Walaupun sejauh ini nelayan Kolbano masih mengandalkan pola tradisionl dengan peralatan seadanya. Dari pengamatan saya, kurang berkembangnya sistim penangkapan ikan disebabkan oleh ganasnya perairan pantai selatan Timor yang langsung berhubungan dengan Samudera Indonesia sementara nelayan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan melaut yang memadai. Nelayan-nelayan hanya bisa melaut di zona aman, tidak jauh dari pantai dengan perahu/sampan-sampan kecil. Hadirnya SMK Perikanan disana beberapa tahun belakangan sejauh ini belum memberikan dampak signifikan bagi peningkatan produksi perikanan Kolbano.

Desa Kolbano sangatlah beruntung dikaruniai pantai yang eksotis dengan pusat di Fatu Un. Lokasi wisata dimana sebuah batu setinggi lebih kurang 30 m berdiri megah di pantai yang dihiasi hamburan pasir warna-warni yang sangat menakjubkan. Sejauh mata memandang dari timur ke barat, terhidang pemandangan pantai berpasir putih yang sangat elok. Dibagian timur kita bisa memandang dengan indahnya tanjung Oetuke yang meruncing hingga ke tengah samudera. Ke arah baratpun mata kita dimanjakan dengan hamparan pasir pantai yang tiada duanya. Tanjung Noesiu dari kejauhan terlihat eksotis dari Fatu Un. Jika dikelola dengan profesional, obyek wisata pantai Kolbano bisa menjadi sebuah destinasi wisata nasional bahkan internasional.


Fatu Un yang berdiri dengan kokoh dan megah.

Sayang seribu sayang, semua kekayaan alam di atas seakan tidak berguna saat ini. Kekayaan alam itu justru dijadikan incaran pemilik modal dan menjadi komoditas politik para politisi yang lambat laun akan menghancurkan Desa Kolbano. Ciri khas Desa Kolbano hanya akan tinggal kenangan akibat kebijakan pembangunan yang tanpa arah.

Lihat saja, saat ini asam dan lontar tidak diandalkan lagi untuk menjadi sumber penghasilan. Generasi sekarang tidak lagi masuk hutan mengumpulkan asam apalagi berpikir untuk menanam asam. Pohon asam yang sudah berusia tua akan mati dengan sendiri dan jika tidak ada perhatian untuk meregenerasi pohon warisan nenek moyang ini maka beberapa tahun yang akan datang asam hanya tinggal nama. Untuk lontar, generasi sekarang sudah sedikit sekali orang yang bisa memanjat pohon lontar untuk menyadap nira atau memetik buah lontar (saboak). Pemdes sempat membatasi penyadapan nira lontar dengan dalih untuk menghindari masyarakat mabuk-mabukan dengan "laru" (tuak yang dibuat dari nira lontar). Pemerintah bukannya mendorong masyarakat untuk meningkatkan produksi kemudian mengolahnya menjadi bahan makanan berkualitas seperti gula air, gula lempeng, gula semut, cuka maupun panganan modern semisal nata de nira, tapi justru membatasi masyarakat menyadap nira. Tidak ada ide untuk diolah menjadi kuliner modern. Saat ini lontar malah digiatkan sebagai bahan bagunan. Batangnya dibuat menjadi balok untuk bahan membangun rumah. Kalau setiap tahun puluhan hingga ratusan pohon ditebang maka belasan tahun mendatang pohon lontar bisa habis karena untuk tumbuh menjadi pohon lontar dewasa dibutuhkan waktu puluhan tahun. Lagi pula tidak ada upaya meregenerasi lontar secara terencana.

Warga lebih 'didorong' untuk pergi ke pantai menambang pasir dan batu warna-warni. Sejak tahun 90-an, pemerintah membuka keran penambangan pasir dan batu warna yang memanjang dari pantai Noesiu, Kolbano sampai dengan Oetuke dan sekitarnya, hanya menyisakan 100 m di sisi timur dan barat Fatu Un sebagai daerah larang tambang. Sesuatu yang bertolak belakang, disaat pantai ini digembar-gembor sebagai tempat wisata pantai dengan pemandangan indah tapi hanya berjarak seratusan meter dari pusat wisata Fatu Un, kita disuguhi lubang-lubang galian yang dibuat masyarakat penambang untuk mengejar batu dan pasir berkualitas.

Pantai yang acak-acakan akibat penambangan pasir dan batu warna.

Tentang harga jangan ditanya, sangat ironis! Bayangkan saja, saya pernah menjumpai pasir Kolbano dijual di mall di Bandung sebagai pasir hias aquarium dengan harga Rp. 10 ribu/ons, sementara di Kolbano pasir seperti itu dibeli hanya dengan harga Rp. 8 ribu/karung (1 karung = 50 kg). Penulis juga pernah menjumpai kerikil Kolbano yang dijual di Surabaya sebagai batu hias taman, harganya Rp. 20 ribu/5 kg sedangkan di Kolbano penambang dihargai cuma Rp. 4 ribu/karung.

Tidak hanya itu saja yang "lucu" dari Kolbano saat ini. Entah apa yang dipikirkan pemerintah dan pembuat kebijakan bagi Desa Kolbano. Pemerintah melihat penting untuk membangun sebuah dermaga niaga (bukan perikanan) dipantai ini yang lokasinya berjarak hanya sekitar 300 m dari pusat wisata pantai Fatu Un. Kita patut bersedih, pantai yang indah itu tidak lagi akan kita nikmati pemandangannya. Kini tak lagi jauh mata bisa mamandang, kita hanya akan melihat sebuah dermaga yang saya prediksi akan mubazir paling tidak 5 tahun setelah dikerjakan. Jangan lagi berharap bisa memandang pasir putih ke arah barat (tanjung Noesiu) karena sudah terhalangi dermaga. Keindahan tempat wisata yang mengandalkan pemandangan tidak hanya terbatas pada 100-200 meter daerah sekeliling tetapi sampai sejauh mata memandang.

Pemandanganpun akan semakin buruk dengan meningkatnya eksploitasi pasir yang tak terkendali. Tak akan ada lagi pasir yang indah karena sudah diangkut ke daerah dan negara lain. Sungguh pengrusakan alam yang luar biasa. Dapatkah wisata alam berada satu kawasan dengan pertambangan dan aktifitas dermaga bisnis?

Batu warna di pantai Kolbano yang dijual mahal didaerah lain tapi dibeli dengan harga sangat murah di Kolbano.

Sedikit saya menjelaskan kenapa saya mengklaim dermaga yang sementara dibangun itu pasti mubazir 5 tahun lagi. Tak perlu jauh-jauh mencari contoh pembanding. Sekitar 50 km arah timur dari Kolbano, belasan tahun lalu pernah dibangun dermaga Boking tapi apa yang terjadi, kini dermaga itu hanyalah bongkahan beton yang hancur diterjang ombak pantai selatan. Kolbano dan Boking memiliki karakter pantai yang sama, tidak mustahil nasib dermagapun sama. Pemerintah beralasan struktur dermaga sudah didesain untuk menahan gelombang yang kuat (ttskab.go.id), okelah sementara kita anggap pasti kuat karena baru dibangun. Namun kalau dianalisa lebih lanjut, kapal apa yang bisa berlayar kesana? Kapal yang berkunjung harus menerjang ketinggian ombak laut lepas yang bisa mencapai 5 meter. Ini jelas kapal sekelas fery tak akan mampu melawan gelombang yang ganas itu. Dermaga akan mubazir karena tidak dikunjungi kapal.

Lalu, mana yang lebih efektif dan efisien, mengangkut barang/penumpang ke Kupang lewat darat atau laut? Sudah pasti masyarakat akan memilih darat karena fleksibel, minim resiko, murah, cepat dan banyak pilihan moda (sepeda motor, bis, truk). Bandingkan dengan harus lewat laut : menunggu jadwal kapal, lebih jauh (sekitar 200 km) dan butuh waktu lebih lama karena jalurnya harus mengitari ujung barat pulau Timor, beresiko tinggi (cuaca dan gelombang bisa berubah setiap saat), repot (harus beli tiket, beli karcis, transport PP pelabuhan), waktu berangkat tidak fleksibel dan akumulasi biaya pasti lebih mahal.

Alasan lain dari Pemkab, dermaga Kolbano akan menjadi penghubung ke Australia (ttskab.go.id). Ini mustahil sekali! Kita baru kelas dermaga, tempat kapal sandar bukan pelabuhan dengan fasilitas sudah lengkap. Bedakan dermaga dan pelabuhan. Menjadi pelabuhan lokal saja rasanya tidak layak apa lagi menjadi pelabuhan regional dan internasional? Fungsi paling dasar dari dermaga saja belum tentu bisa berjalan, "menjadi tempat berlindung kapal dari gelombang dan angin." Mana mungkin pantai yang langsung berhadapan dengan samudra Indonesia bisa menjadi tempat berlindung dari angin dan gelombang? Mengutip kata-kata Rosseau,"Jangan salahkan alam kalau nanti dermaga ini mubazir, karena alam tak pernah membangun dermaga".

Pemandangan Pantai Kolbano akan terhalang oleh dermaga yang sudah mulai dibangun.

Kalau dari segi ekonomi, pusat ekonomi dan daerah belakang (hinterland) mana yang mendukung dermaga ini? Untuk moblisasi barang dan penumpang ke ibu kota kabupaten (SoE) saja, jelas membutuhkan transportasi darat. Jika ke ibu kota provinsi (Kupang) lebih mudah dan murah bagi orang sekitar menggunakan bis, truk atau sepeda motor apalagi sekarang jalannya sudah bagus. Barang dari Kupang ke SoE atau sebaliknya pasti dengan transportasi darat, gila khan kalau barang/penumpang dari Kupang harus diangkut dengan kapal laut ke Kolbano baru diangkut lagi ke SoE lewat darat.

Rasanya orang dungupun tahu kalau mengangkut barang (PP) dari Kolbano ke pusat-pusat ekonomi (SoE dan Kupang) lebih murah menggunakan jalur darat. Kalau menyangkut barang dari/ke Australia? Sekali lagi orang tak berpendidikanpun pasti tahu kalau sebaiknya kapal dari/ke Australia langsung berhubungan dengan pelabuhan Tenau Kupang yang lebih layak daripada barangnya dibongkar-muat di Kolbano baru dibawa lagi ke Kupang kemudian didistribusi ke daerah lain.

Barang ekonomis tinggi apa dari Kolbano dan sekitarnya yang membutuhkan transport laut? Mungkin hanya batu warna dan pasir Kolbano dan itu artinya semakin membuka peluang eksploitasi yang tidak bisa dikendalikan dan dermaganya hanya berfungsi bagi pemilik modal bukan untuk rakyat kecil.

Itu baru sedikit dari segi teknis dan ekonomi. Belum lagi menganalisa kondisi geologis, pengembangan dermaga, efek sosial dan lain-lain. Semuanya akan mendukung bahwa dermaga itu pasti mubazir dan pantai Kolbano yang rusak akan menjadi warisan untuk anak cucu. Puluhan miliar uang rakyat akan terbuang sia-sia. Satu-satunya segi yang menurut saya mendukung adanya dermaga ini adalah "pencitraan politik" agar masyarakat mengira 'mereka' telah banyak bekerja bagi rakyat. Ini bisa dilihat dari banyaknya baliho yang terpasang di lokasi proyek.

Kolbano ku sayang. Saat ini tidak akan ada lagi yang bisa dibanggakan darimu. Alam yang indah sudah hancur digerogoti ambisi-ambisi berkedok meningkatkan PAD dan meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa pertimbangan yang matang. Ambisi dan nafsu sesaat dari mereka yang haus harta dan jabatan. Tidak jelas akan dibawa kemana pembangunan di Kolbano. Apakah akan menjadi desa sejarah, desa wisata, desa pertanian, desa perikanan, desa pertambangan atau desa niaga? Keharmonisan manusia dan alam hanyalah kenangan.

Batu warna dengan pemandangan pantai yang indah akan tinggal kenangan.

Setelah alamnya diobrak-abrik, adakah desa ini tetap bisa menghasilkan SDM-SDM luar biasa seperti Prof. Taopan dan Prof. Neolaka? Kalau dulu hanya mengandalkan asam, lontar, kebun, ternak dan hasil laut saja Kolbano bisa menghasilkan profesor-profesor, apakah sekarang dengan adanya pertambangan pasir dan dermaga akan lebih banyak profesor yang dihasilkan? Ataukah hanya menghasilkan politisi-politisi karbitan, pengusaha-pengusaha egois, birokrat-birokrat ABS (asal bapak senang), tenaga-tenaga kerja tak berpendidikan, petani-nelayan-penambang miskin?

Masih adakah orang yang peduli dan prihatin dengan desa ini? Jawabannya ada pada diri pemerintah dan generasi muda Kolbano saat ini serta mereka yang masih mau peduli dengan kelestarian alam.

Jangan sampai kisah heroik tiga pahlawan Kolbano dan kekayaan alamnya hanya akan menjadi dongeng yang menambah panjang kisah "Bi Kabin".*


*) Pither Yurhans Lakapu --- Putra Kolbano yang sangat prihatin.

November 2012.
_____

UPDATE: Lihat reportase Trans7 tentang pantai Kolbano dalam acara "Indonesiaku-Mengais Asa di Pantai Kolbano" berikut ini:

atau dengan mengklik link: Indonesiaku-Mengais Asa di Pantai Kolbano.

11 comments:

  1. Bisa jadi pantai Kolbano sesuai dengan judul yang di atas "bekas", kalau pemerintah tidak segera bertindak untuk melestarikan budaya dan alam yang ada, serta tidak memberikan solusi cerdas dan modern untuk perekonomian di Kolbano.

    Buat nata de nira.... bisa jadi peluang usaha tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bung, klo pemerintah tidak ada solusi cerdas, desa kolbano hanya akan tinggal kenangan...
      Terima kasih singgahnya ya...

      Delete
  2. Prihatin sekali, untuk apa ada pemerintah kalau hanya membuat sengsara rakyat?

    ReplyDelete
  3. Buat apa ada pemerintah kalau hanya menambah rusaknya alam dan penderitaan rakyat Kolbano?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om Rihi, bingung dgn pikiran Pemda kita. Berbuat seolah membantu rakyat padahal makin menyengsarakan. Miris...

      Delete
  4. I've reading everything,chayoo thumbs up for the wonderful blogger...

    ReplyDelete
  5. Chayoo thumbs up for the blogger...i've been reading everything you've wrote and setuju bnget sih...kngen fatu un:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kakak Nova sudah singgah & juga untuk apresiasinya...

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. I read your post very interesting, is admirable what you do to save the coast from exploitation, kolbano seems a really nice place,
    Could you help me, I am looking information about the wind conditions in kolbano ... if you know a windy kolbano beach? for how many months a year and the wind direction?
    you know if there are crocodiles in the area? thanks a lot for your help
    Stefano.C

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Stefano, Thanks to visit my blog. Forgive me not to reply you soon.

      I have no detail information/data for measuring the rapidity of the wind blow in Kolbano area an around, but in our appropriate, we saw that the wind only blow from the east to the west and north to south. Its about January to July every year.

      There is no crocodile which is live maintain permanent at Kolbano beach. Only sometimes in 2-3 years, there's a crocodile appear, which imigrate from another place, from the east to the west or on the contrary, pass trough Kolbano beach. Thats why, not make a trouble for people or the society who live there (Kolbano).

      For any confirmation, please contact me by e-mail pither_yurhans@yahoo.com. Thank you.

      Delete