Social Icons

Wednesday, October 03, 2018

Hidup Hanya Sekali dan Penuh Liku, Jalanilah dengan Tegar dan Maksimal

Salah satu adegan film Me Before You | Sumber: Dailymail
"Anda hanya hidup satu kali. Sudah kewajibanmu untuk menjalaninya semaksimal mungkin'"

Kalimat itu diucapkan Will Traynor kepada Louisa Clark dalam film Me Before You, sebuah film drama romantis tahun 2016. Will berkata demikian karena merasa Lou tidak memiliki ambisi besar untuk hidupnya.

Will (31) adalah seorang bankir tampan, mapan, punya segudang impian besar dan suka petualangan serta berasal dari sebuah keluarga kaya-raya di Inggris.

Namun, sebuah kecelakaan lalu-lintas yang dialami membalik kehidupannya 180 derajat. Cedera tulang belakang akibat kecelakaan itu menyebabkan hampir seluruh tubuhnya lumpuh, kaki hingga leher tak bisa digerakkan.

Berbagai terapi termutakhir selama 2 tahun hanya mampu membuat dia menggerakkan salah satu jari tangannya. Sang kekasih pun pergi menikah dengan pria lain. Semua itu membuat sifat Will berubah menjadi sarkastis dan dingin.

Sedangkan Louisa adalah perawat yang diperkerjakan orang tua Will untuk menemani Will selama 6 bulan, waktu yang ditetapkan Will sebelum ingin mengakhiri hidup lewat eutanasia sebagai jalan terbaik untuk menyudahi penderitaannya. Orang tua Will memperkerjakan Lou karena percaya gadis 26 tahun itu bisa menemani dan mempengaruhi Will membatalkan rencana itu.

Lou berlatar belakang keluarga miskin. Awalnya menerima pekerjaan sebagai perawat difabel itu karena baru saja di-PHK dari pekerjaan lamanya padahal ia adalah tulang punggung keluarganya. Tetapi, seiring waktu, Louisa semakin mencintai pekerjaannya, tumbuh motivasi  yang kuat untuk menolong Will membatalkan rencana eutanasia. Lou bahkan jatuh cinta pada Will.

Selama 6 bulan itu, Lou berusaha membuat hati Will senang, juga sebaliknya Will berusaha menyenangkan hati Lou yang tulus, tanpa saling tau hingga saat-saat terakhir. 
***

Saya mengapresiasi film yang diadaptasi dari novel Jojo Moyes dan disutradarai Thea Sharrock ini karena menampilkan riset mendalam tentang pribadi quadriplegia (lumpuh pada keempat organ gerak) yang diramu dalam adegan-adegan menguras emosi, serta diperankan dengan apik oleh Sam Claflin dan Emilia Clarke. Terlepas dari ending-nya  yang menuai protes dari berbagai kalangan terutama aktivis disabilitas dan anti eutanasia.

Me Before You menggambarkan dengan detail apa  yang mungkin tidak dipahami kebanyakan orang, baik menyangkut fisik maupun psikis seorang pria yang pernah menjalani hidup normal, aktif dan mandiri namun tiba-tiba harus terkekang.

Apresiasi saya dilatarbelakangi pengalaman sendiri  yang mirip Will, walaupun berbeda dalam beberapa hal. Will lumpuh karena kecelakaan sedangkan saya akibat penyakit Mielitis Transversa (Transverse Myelitis). Will hidup di Inggris yang semuanya serba maju sedangkan saya di Timor yang serba tertinggal.

Menonton film ini seolah melihat gambaran diri sendiri. Tentang pikiran, perasaan, sikap, kerentanan kesehatan, pandangan terhadap difabel, konflik asmara dan sebagainya. Walaupun saat ini saya lumpuh hanya bagian bawah tubuh (paraplegia) namun kondisi hati hampir sama. Saya pernah juga merasakan hidup sebagai kuadriplegia ketika awal diserang Mielitis Transversa sehingga keempat organ gerak tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Jika ingin tahu lebih dalam tentang perasaan seorang  yang pernah hidup sebagai orang normal lalu mengalami kecacatan berat oleh suatu sebab dan menjadi sangat terbatas, tontonlah film Me Before You. Atau, untuk lebih kontekstual dan nyata, bacalah buku berjudul TEGAR. Lebih lanjut tentang TEGAR >>>

No comments:

Post a Comment